Dinamika Perjuangan Pendidikan oleh YKAI, untuk Pendidikan Sarjana bagi Warga Miskin (DIKSARWAKIN).

Bandung, YKAI || media-istana.com ;

YKAI (Yayasan Kemandirian Anak Indonesia), merupakan satu lembaga yang berbadan hukum dan fokus pada Perhatian dan Kiprah Nyata dalam kegiatan ditengah masyarakat, yakni saat ini YKAI meluncurkan satu Program Pendidikan Sarjana Bagi Warga Miskin (DIKSARWAKIN).
Bertempat di Pasir Huni Raya , Kota Bandung Jawa Barat, Ibu Hana S Hasanah selaku Ketua Umum menuturkan berbagai kendala yang dihadapi dalam menjalankan program Diksarwakin yang sudah digagas dan dilaksanakan sejak Tahun 2017 yang Lalu.

Menurut Bu Hana, Diksarwakin adalah program yang dibuat dan di desain untuk memfasilitasi masyarakat miskin yang tidak bisa menggunakan haknya untuk mendapatkan pendidikan tinggi dimana mereka tinggal..

Hal ini terbuka peluang pada setiap Perguruan Tinggi yang telah menetapkan kuota Warga Miskin yang difasilitasi oleh Pihak Perguruan Tinggi untuk mengakomodir Mahasiswa yang berasal dari Keluarga Miskin.

Pemerintah sendiri menetapkan Capaian Target yang di tetapkan sebagai Kuota setiap Tahun untuk Anggaran Pendidikan Tinggi yang di peruntukkan bagi Mahasiswa Warga Miskin.

Berbagai dokumen pendukung bagi Mahasiswa tersebut sudah di koordinir dan dilakukan pengurusan nya oleh YKAI, sebagaimana persyaratan yang sudah ditentukan oleh kebijakan pemerintah yakni BIDIKMISI.

Namun terkait hal tersebut,banyak temuan dilapangan bahwa ada sebagian Mahasiswa Warga Miskin yang justru tidak mendapatkan BIDIKMISI tersebut, bahkan yang mendapatkan adalah Para Mahasiswa yang sebenernya mampu, namun tertera sebagai Mahasiswa Penerima Bidikmisi.

Redaksi kemudian melakukan wawancara langsung dengan Para Mahasiswa yang mengalami putus kuliah gara gara terhenti dan tidak mampu membayar biaya kuliah, padahal secara prestasi rata rata mahasiswa ini memiliki Indeks Prestasi Cumlaude.

Menanggapi hal tersebut Ketua Program Diksarwakin YKAI, menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena banyaknya kuota tidak sebanding dengan banyaknya masyarakat yang membutuhkan pendidikan kesarjanaan.

Dan infrastruktur perguruan tinggi tidak merata ada disetiap kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Yang apabila tidak di fasilitasi maka kita akan tetap tidak bisa mencapai target yang sudah ditentukan pemerintah pusat dalam menaikkan SDM. Tutur Bu Hana.

Kami mendirikan Lembaga Yayasan Kemandirian Anak Indonesia dan membuat Program Diksarwakin dengan tujuan membantu masyarakat miskin agar terus berjuang dalam mendapatkan hak mereka mendapatkan pendidikan kesarjanaan. Terang Hana.

Kami YKAI, membantu dengan memfasilitasi Mereka melalui cara melakukan MoU (kerjasama kesepahaman) dengan Perguruan tinggi swata dan mengajak mereka para akademisi untuk ikut peduli dalam membangun SDM anak anak miskin agar mereka mampu bersaing di dunia usaha atupun di dunia kerja.

Selama ini Pemerintah telah mengucurkan dana pendidikan melalui bidikmisi akan tetapi program beasiswa ini hanya mampu menyerap sebagian kecil dari anak anak miskin.

Kami mencoba memfasilitsi mereka yang sangat ingin melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah dengan mulai meminta dukungan dari pemerintah Daerah kota Bandung (sebagai piloting pertama) dalam hal ini Komisi D DPRD kota Bandung.

Mereka memberi dukungan sepenuhnya dengan memberikan kuota beasiswa biaya kuliah mahasiswa sebanyak banyaknya…
Pada awal kami berjalan, kami memfasilitasi sebagian kecil masyarakat miskin usia kuliah kepada masyarakat yang baru lulus sma .

Mereka kami titpkan di Universitas Islam Nusantara…Dan kami mencoba untuk memohonkan beasiswa tapi terkendala dengan kuota dan birokrasi. Malahan kami sempat terbentur bentur akibat birokrasi yang ada.
Untuk mendapatkan Dana CSR bidang pendidikanpun kami sangat sulit padahal anak anak ini sangat membutuhkan bantuan.
Apalagi setelah 2 tahun berjalan yang daftar untuk dapat kesempatan kuliah tidak sedikit, yakni lebih dari 500 mahasiswa, sehingga kami harus menolak -/+ 500 mahasiswa.

Malah yang angkatan 2019 kami ajukan bidikmisinya dengan prosedur yang mengajukan universitas yang telah menerima mereka yang miskin untuk kuliah .

Dan sampai saat ini bidikmisi yang kami ajukan belun juga terealisasi.

Secara prosedur pengajuan dan hasil audensi dengan LLDikti wil IV kami di beri rekomendasi untuk mengajukan bidikmisi ke Kementerian…
Ini entah siapa dan apa yang salah sehingga kami sampai saat ini belum juga menerima jawaban.. jelas Bu Hana menceritakan sekelumit perjuangan YKAI yang sudah ditempuh.

Sehingga redaksi media-istana.com ingin mengangkat satu pertanyaan kepada segenap pembaca dan stakeholder terkait, apakah memang program Bidikmisi ini masih berlanjut atau diprioritaskan untuk kalangan tertentu saja atau wilayah tertentu saja ?

Dan menyikapi kondisi perjuangan YKAI, maka pertanyaannya adalah haruskah YKAI membatalkan dan mengeluarkan mereka (para Mahasiswa miskin) ini dari perkuliahannya?

  • Apakah memang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat Indonesia khususnya dalam hal pendidikan tinggi sudah dijalankan dengan obyektif di era pemerintahan saat ini ?…
    (Red.anr)